Sabtu, 18 Oktober 2014

MAKALAH KONSEP KEBIDANAN

Makalah Konsep Kebidanan
                   
95 PERSEN BIDAN IKUT PELATIHAN PERSALINAN

DISUSUN OLEH

DEVY ALYA PRATAMA
NIM : PO7124113036










                                                                                                                                               

DOSEN PEMBIMBING : GUSTIANA, S.SiT, M.Kes

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES KEMENKES ACEH
PRODI D III KEBIDANAN BANDA ACEH
2013/2014



KATA PENGANTAR
BISMILL
 



            Segala puji bagi Allah swt. Yang telah menciptakan kami dengan akal dan budi, kehidupan yang patut kami syukuri, keluarga yang mencintai kami, dan teman – teman yang menginspirasi. Karena berkat rahmat – Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul 95 Persen Bidan Ikut Pelatihan Persalinan. Shalawat beriring salam kami sampaikan juga kepada Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai suri tauladan atas umatnya.
            Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1.     Ibu Gustiana, S.SiT, M.Kes
            Makalah ini dibuat adalah untuk membantu mempermudah pemahaman dalam mendalami mata kuliah KONSEP KEBIDANAN.
            Penulis menyadari segala keterbatasan yang dimiliki, oleh karena itu penulis memohon saran dan kritik kepada semua pihak agarmakalah ini menjadi sempurna. Atas saran dan kritiknya penulis mengucapkan banyak terima kasih. Semoga makalah ini dapat bermanfaat, memberikan kelancaran, dan barokah. Aamiin.

Banda Aceh, 17 Desember 2013

Penulis



95 Persen Bidan Ikut Pelatihan Persalinan
DEMAK – Kompetensi bidan di Kabupaten Demak mencapai 95 persen. Hal itu terlihat dari bidan yang telah mengikuti pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN).
“Jumlah bidan Demak sebanyak 673 orang. Dari jumlah itu, 95 persen di antaranya sudah mengikuti pelatihan asuhan persalinan normal,” ujar Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Demak, Sri Puji Astuti, usai halal bihalal dan peringatan HUT Ke-62, di pendopo kabupaten, Sabtu (31/8).
Menurutnya, persalinan yang ditolong oleh bidan berkopenten dapat meningkatkan kaupan persalinan yang normal yaitu 90%. APN sendiri merupakan upaya untuk meningkatkan kompetensi bidan dalam melakukan pertolongan persalinan.
“Kompetensi bidan bertujuan mengurangi risiko dan dampak langsung terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi,” katanya.
Terkait organisasi, lanjutnya, kepesertaan IBI paling tinggi dibanding dengan organisasi profesi lainnya. Dari 673 bidan, mereka yang berstatus PNS dan PTT sebanyak 345 orang.
Selebihnya, praktik mandiri, bekerja dirumah sakit swasta maupun rumah sakit bersalin. Ke depan, IBI Demak berkomitmen untuk meningkatkan standar profesi kebidanan.
“Target 2013, jumlah anggota yang mengikuti dan lulus pelatihan APN bias mencapai 100 persen,” tukasnya. (J9-64)


PEMBAHASAN 95 PERSEN BIDAN IKUT PELATIHAN PERSALINAN
            Asuhan persalinan normsl itu merupakan asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi baru lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama pendarahan postpartum, hyperemia dan asfiksia BBL. Tujuan Asuhan Persalinan Normal adalah mengupayakan kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi pada ibu dan bayinya melalui berbagai upaya integrasi dan lengkap namun dengan intervensi menimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat yang optimal.
            Dengan demikian, pertolongan persalinan dapat memberikan asuhan yang mengacu pada upaya – upaya pencegahan yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi ibu dan bayi baru lahir selama persalinan dan masa nifsas dini.
            Tujuan umum pelatihan adalah meningkatkan sikap positif terhadap keramahan dan keamanan dalam memberikan pelayanan persalinan normal dan penanganan awal penyulit beserta rujukannya. Memberikan pengetahuan dan keterampilan pelayanan persalinan normal dan penanganan awal penyulit beserta rujukan yang berkualitas dan sesuai dengan prosedur standar.
            Tujuan pelatihan adalah mengidentifikasi praktek – praktek terbaik bagi penatalaksanaan persalinan dan kelahiran.
*      Penolong yang terampil
*      Kesiapan mengahadapi persalinan dan kelahiran serta kemungkinan komplikasinya
*      Partograf
*      Episiotomi terbatas hanya atas indikasi
Mengidentifikasi tindakan – tindakan yang merugikan dengan maksud menghilangkan tindakan tersebut.
            Kompetensi bidan adalah pengetahuan yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki oleh seorang bidan dalam melaksanakan praktik kebidanan pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan, secara aman, dan bertanggung jawab sesuai dengan standar, dengan syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat.
            Bidan memberikan asuhan antenatal bermutu tinggi untuk meminimalkan risiko selama kehamilan yang meliputi deteksi dini, pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu.
            Pada kasus ini bidan mengikuti asuhan persalinan normal (APN), yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi bidan dalam melakukan pertolongan persalinan secara normal. Dan dimaksudkan agar dapat mengurangi resiko dan dampak langsung terhadap penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Untuk melakukan asuhan persalinan normal (APN) dirumuskan 58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut:
1)      Mendengar & Melihat Adanya Tanda Persalinan Kala Dua.
2)      Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.
3)      Memakai celemek plastik.
4)      Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air mengalir.
5)      Menggunakan sarung tangan DTT pada tangan kanan yg akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6)      Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah partus set.
7)      Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah yang telah dibasahi oleh air matang (DTT), dengan gerakan vulva ke perineum.
8)      Melakukan pemeriksaan dalam – pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.
9)      Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.
10)  Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160 x/menit).
11)  Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila ibu sudah merasa ingin meneran.
12)  Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.
13)  Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.
14)  Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.
15)  Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6 cm.
16)  Meletakan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu
17)  Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan
18)  Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.
19)  Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk bersih pada perut ibu untuk mengeringkan bayi jika telah lahir dan kain kering dan bersih yang dilipat 1/3 bagian dibawah bokong ibu. Setelah itu kita melakukan perasat stenan (perasat untuk melindungi perineum dngan satu tangan, dibawah kain bersih dan kering, ibu jari pada salah satu sisi perineum dan 4 jari tangan pada sisi yang lain dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi agar posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati introitus dan perineum).
20)  Setelah kepala keluar menyeka mulut dan hidung bayi dengan kasa steril kemudian memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin
21)  Menunggu hingga kepala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan.
22)  Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental.
23)  Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang.
24)  Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku sebelah atas.
25)  Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin)
26)  Melakukan penilaian selintas :
a.       Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan?
b.      Apakah bayi bergerak aktif ?
27)  Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu.
28)  Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.
29)  Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik.Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30)  Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama.
31)  Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem tersebut.
32)  Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
33)  Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi.
34)  Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva.
35)  Meletakan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat.
36)  Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.
37)  Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).
38)  Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.
39)  Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras)
40)  Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia.
41)  Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42)  Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.
43)  Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.
44)  Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.
45)  Setelah satu jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
46)  Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.
47)  Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
48)  Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.
49)  Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan
50)  Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik.
51)  Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi.
52)  Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.
53)   Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai pakaian bersih dan kering.
54)  Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum.
55)  Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5%.
56)  Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
57)  Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
58)  Melengkapi partograf.

            Walau sudah mencakup 95 % bidan di Demak mengikuti pelatihan persalinan, namun pada tahun 2013 diharapkan sampai 100 % bidan di Demak dapat mengikuti pelatihan persalinan ini.
            Keterampilan yang diajarkan dalam pelatihan Asuuhan Persalinan Normal harus diterapkan sesuai dengan standar asuhan bagi semua ibu bersalin di setiap tahap persalinan setiap penolongan persalinan dimana pun hal tersebut terjadi.
            Diakhir pelatihan asuhan persalinan normal, peserta harus menguasai pengetahuan dan keterampilan yang telah ditetapkan sehingga mampu untuk memberikan asuhan persalinan yang aman dan bersih sera mencegah terjadinya komplikasi pada ibu dan anak yang baru lahir.
            Pelatihan asuhan persalinan normal baru dianggap selesai apabila pada penilaian di tempat kerja menunjukkan bahwa peserta latihan telah berkualifikasi untuk memberikan asuhan persalinan normal, dan tempat peserta bekerja terakreditasi sebagai fasilitas kesehatan yang mampu memberikan pelayanan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
            Ini semua kembali kepada tanggung jawab bidan terhadap pengembangan kompetensi yanitu setiap bidan memiliki tanggung jawab memelihara kemampuan profesionalnya.
 Karena tujuan pendidikan kebidanan berkelanjutan yaitu :
a.       Pemenuhan standart
Organisasi profesi bidan telah menentukan standar kemampuan bidan yang harus dikuasai melalui pendidikan berkelanjuatan. Bidan yang telah lulus program pendidikan kebidanan tersebut wajib melakukan registrasi pada organisasi profesi bidan untuk mendapatkan izin memberikan pelayanan kebidanan kepada pasien.

b.      Meningkatkan produktivitas kerja
idan akan dipacu untuk terus meningkatkan jenjang pendidikan mereka sehingga pengetahuan danketerampilan (technical skill) bidan akan lebih berkualitas. Hal ini akan meningkatkan produktivitas kerja bidan dalam memberikan pelayanan pada klien.

c.       Efisiensi
Pendidikan bidan yang berkelanjutan akan melahirkan bidan yang berkompeten dibidangnya sehingga menigkatkan efisiensi kerja bidan dalam memberi pelayanan kepada klien. Pelayanan kebidanan yang berkualitas akan menarik komsumen.

d.      Meningkatkan kualitas pelayanan
Pendidikan bidan yang berkelanjutan akan memicu daya saing dikalangan profesi kebidanan agar terus meningkatkan kualitasnya akan menarik komsumen.

e.       Meningkatkan moral
Melalui pendidikan bidan yang berkelanjutan tidak hanya pengetahuan dan keterampilan bidan dalam member pelayanan yang menjadi perhatian, tetapi moralitas dan etika seorang bidan juga ditingkatkan untuk menjamin kualitas bidan yang professional.

f.       Meningkatkan karier
Peluang peningkatan karier akan semakin besar seiring peningkatan kualitas pelayanan, peforma dan prestasi kerja. Semua ini ditunjang oleh pendidikan bidan yang berkualitas.

g.      Meningkatkan kemampuan konseptual
Kemampuan intelektual dan konseptual bidan dalam menangani kasus pasien akan terasah sehingga bidan dapat memberi asuhan kebidanan dengan tepat.

h.      Meningkatkan keterampilan kepemimpinan (leadership skill)
Bidan akan memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik sebagai seorang manager, bidan dibekali keterampilan untuk dapat berhubungan dengan orang lain (human realition) dan bekerjasama dengan sejawat multidisiplin lainnya guna memberi pelayanan yang berkualitas bagi klien.

i.        Imbalan (kompensasi)
Asuhan bidan yang berkualitas akan menarik konsumen dan meningkatkan penghargaan atas pelayanan yang diberikan.

j.        Meningkatkan kepuasan konsumen
Kepuasan konsumen akan meningkat seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan kebidanan.

            Oleh karena itu, bidan harus selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan jalan mengikuti pelatihan, pendidikan berkelanjutan, seminar, dan pertemuan ilmiah lainnya.


DAFTAR PUSTAKA
Soepardan, suryani. (2007). Konsep Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Hurhayati, Aprina, Bustani, Anita. (2012). Konsep Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika


Tidak ada komentar:

Posting Komentar