Makalah Konsep Kebidanan
DISUSUN OLEH
DEVY ALYA PRATAMA
NIM : PO7124113036

DOSEN PEMBIMBING : GUSTIANA, S.SiT,
M.Kes
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA
JURUSAN KEBIDANAN POLTEKKES
KEMENKES ACEH
PRODI D III KEBIDANAN BANDA
ACEH
2013/2014
KATA
PENGANTAR
![]() |
Segala puji bagi
Allah swt. Yang telah menciptakan kami dengan akal dan budi, kehidupan yang
patut kami syukuri, keluarga yang mencintai kami, dan teman – teman yang
menginspirasi. Karena berkat rahmat – Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul 95 Persen Bidan Ikut Pelatihan Persalinan. Shalawat beriring
salam kami sampaikan juga kepada Nabi Besar Muhammad saw. Sebagai suri tauladan
atas umatnya.
Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan ucapan
terimakasih kepada :
1. Ibu
Gustiana, S.SiT, M.Kes
Makalah ini
dibuat adalah untuk membantu mempermudah pemahaman dalam mendalami mata kuliah
KONSEP KEBIDANAN.
Penulis menyadari
segala keterbatasan yang dimiliki, oleh karena itu penulis memohon saran dan
kritik kepada semua pihak agarmakalah ini menjadi sempurna. Atas saran dan
kritiknya penulis mengucapkan banyak terima kasih. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat, memberikan kelancaran, dan barokah. Aamiin.
Banda Aceh, 17 Desember 2013
Penulis
95 Persen Bidan Ikut
Pelatihan Persalinan
DEMAK –
Kompetensi bidan di Kabupaten Demak mencapai 95 persen. Hal itu terlihat dari bidan
yang telah mengikuti pelatihan Asuhan Persalinan Normal (APN).
“Jumlah bidan Demak
sebanyak 673 orang. Dari jumlah itu, 95 persen di antaranya sudah mengikuti
pelatihan asuhan persalinan normal,” ujar Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI)
Demak, Sri Puji Astuti, usai halal bihalal dan peringatan HUT Ke-62, di pendopo
kabupaten, Sabtu (31/8).
Menurutnya,
persalinan yang ditolong oleh bidan berkopenten dapat meningkatkan kaupan
persalinan yang normal yaitu 90%. APN sendiri merupakan upaya untuk
meningkatkan kompetensi bidan dalam melakukan pertolongan persalinan.
“Kompetensi bidan
bertujuan mengurangi risiko dan dampak langsung terhadap penurunan angka
kematian ibu dan bayi,” katanya.
Terkait
organisasi, lanjutnya, kepesertaan IBI paling tinggi dibanding dengan
organisasi profesi lainnya. Dari 673 bidan, mereka yang berstatus PNS dan PTT
sebanyak 345 orang.
Selebihnya,
praktik mandiri, bekerja dirumah sakit swasta maupun rumah sakit bersalin. Ke
depan, IBI Demak berkomitmen untuk meningkatkan standar profesi kebidanan.
“Target 2013,
jumlah anggota yang mengikuti dan lulus pelatihan APN bias mencapai 100
persen,” tukasnya. (J9-64)
PEMBAHASAN
95 PERSEN BIDAN IKUT PELATIHAN PERSALINAN
Asuhan persalinan normsl itu
merupakan asuhan yang bersih dan aman selama persalinan dan setelah bayi baru
lahir, serta upaya pencegahan komplikasi terutama pendarahan postpartum,
hyperemia dan asfiksia BBL. Tujuan Asuhan Persalinan Normal adalah mengupayakan
kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi pada ibu dan
bayinya melalui berbagai upaya integrasi dan lengkap namun dengan intervensi
menimal sehingga prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada
tingkat yang optimal.
Dengan demikian, pertolongan
persalinan dapat memberikan asuhan yang mengacu pada upaya – upaya pencegahan
yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi ibu dan bayi baru lahir selama
persalinan dan masa nifsas dini.
Tujuan umum pelatihan adalah
meningkatkan sikap positif terhadap keramahan dan keamanan dalam memberikan
pelayanan persalinan normal dan penanganan awal penyulit beserta rujukannya.
Memberikan pengetahuan dan keterampilan pelayanan persalinan normal dan
penanganan awal penyulit beserta rujukan yang berkualitas dan sesuai dengan
prosedur standar.
Tujuan pelatihan adalah
mengidentifikasi praktek – praktek terbaik bagi penatalaksanaan persalinan dan
kelahiran.
Mengidentifikasi tindakan – tindakan yang
merugikan dengan maksud menghilangkan tindakan tersebut.
Kompetensi bidan adalah pengetahuan
yang dilandasi oleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki
oleh seorang bidan dalam melaksanakan praktik kebidanan pada berbagai tatanan
pelayanan kesehatan, secara aman, dan bertanggung jawab sesuai dengan standar,
dengan syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat.
Bidan memberikan asuhan antenatal
bermutu tinggi untuk meminimalkan risiko selama kehamilan yang meliputi deteksi
dini, pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu.
Pada kasus ini bidan mengikuti asuhan
persalinan normal (APN), yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi bidan
dalam melakukan pertolongan persalinan secara normal. Dan dimaksudkan agar
dapat mengurangi resiko dan dampak langsung terhadap penurunan angka kematian
ibu dan bayi.
Untuk melakukan asuhan persalinan
normal (APN) dirumuskan 58 langkah asuhan persalinan normal sebagai berikut:
1) Mendengar & Melihat Adanya Tanda
Persalinan Kala Dua.
2) Memastikan kelengkapan alat
pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin & memasukan alat
suntik sekali pakai 2½ ml ke dalam wadah partus set.
3) Memakai celemek plastik.
4) Memastikan lengan tidak memakai
perhiasan, mencuci tangan dgn sabun & air mengalir.
5) Menggunakan sarung tangan DTT pada
tangan kanan yg akan digunakan untuk pemeriksaan dalam.
6) Mengambil alat suntik dengan tangan
yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakan kembali kedalam wadah
partus set.
7) Membersihkan vulva dan perineum
dengan kapas basah yang telah dibasahi oleh air matang (DTT), dengan gerakan
vulva ke perineum.
8) Melakukan pemeriksaan dalam –
pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah.
9) Mencelupkan tangan kanan yang
bersarung tangan ke dalam larutan klorin 0,5%, membuka sarung tangan dalam
keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%.
10) Memeriksa denyut jantung janin
setelah kontraksi uterus selesai – pastikan DJJ dalam batas normal (120 – 160
x/menit).
11) Memberi tahu ibu pembukaan sudah
lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada his apabila
ibu sudah merasa ingin meneran.
12) Meminta bantuan keluarga untuk
menyiapkan posisi ibu untuk meneran (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi
setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman.
13) Melakukan pimpinan meneran saat ibu
mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran.
14) Menganjurkan ibu untuk berjalan,
berjongkok atau mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan
untuk meneran dalam 60 menit.
15) Meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan
bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5 – 6
cm.
16) Meletakan kain bersih yang dilipat
1/3 bagian bawah bokong ibu
17) Membuka tutup partus set dan
memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan
18) Memakai sarung tangan DTT pada kedua
tangan.
19) Saat kepala janin terlihat pada
vulva dengan diameter 5 – 6 cm, memasang handuk bersih pada perut ibu untuk
mengeringkan bayi jika telah lahir dan kain kering dan bersih yang dilipat 1/3
bagian dibawah bokong ibu. Setelah itu kita melakukan perasat stenan (perasat
untuk melindungi perineum dngan satu tangan, dibawah kain bersih dan kering,
ibu jari pada salah satu sisi perineum dan 4 jari tangan pada sisi yang lain
dan tangan yang lain pada belakang kepala bayi. Tahan belakang kepala bayi agar
posisi kepala tetap fleksi pada saat keluar secara bertahap melewati introitus
dan perineum).
20) Setelah kepala keluar menyeka mulut
dan hidung bayi dengan kasa steril kemudian memeriksa adanya lilitan tali pusat
pada leher janin
21) Menunggu hingga kepala janin selesai
melakukan putaran paksi luar secara spontan.
22) Setelah kepala melakukan putaran
paksi luar, pegang secara biparental.
23) Menganjurkan kepada ibu untuk
meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal
hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan
distal untuk melahirkan bahu belakang.
24) Setelah bahu lahir, geser tangan
bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan dan siku sebelah
bawah. Gunakan tangan atas untuk menelusuri dan memegang tangan dan siku
sebelah atas.
25) Setelah badan dan lengan lahir,
tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk
memegang tungkai bawah (selipkan ari telinjuk tangan kiri diantara kedua lutut
janin)
26) Melakukan penilaian selintas :
a. Apakah bayi menangis kuat dan atau
bernapas tanpa kesulitan?
b. Apakah bayi bergerak aktif ?
27) Mengeringkan tubuh bayi mulai dari
muka, kepala dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan
verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi
atas perut ibu.
28) Memeriksa kembali uterus untuk
memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus.
29) Memberitahu ibu bahwa ia akan
disuntik oksitasin agar uterus berkontraksi baik.Dalam waktu 1 menit setelah
bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramaskuler) di 1/3 paha atas
bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).
30) Setelah 2 menit pasca persalinan,
jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali
pusat ke arah distal (ibu) dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari
klem pertama.
31) Dengan satu tangan. Pegang tali
pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali
pusat diantara 2 klem tersebut.
32) Mengikat tali pusat dengan benang
DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut
dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.
33) Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain
hangat dan memasang topi di kepala bayi.
34) Memindahkan klem pada tali pusat
hingga berjarak 5 -10 cm dari vulva.
35) Meletakan satu tangan diatas kain
pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain
menegangkan tali pusat.
36) Setelah uterus berkontraksi,
menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan
uterus dengan hati-hati kearah doroskrainal. Jika plasenta tidak lahir setelah
30 – 40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul
kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur.
37) Melakukan penegangan dan dorongan
dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong
menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas,
mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial).
38) Setelah plasenta tampak pada vulva,
teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan),
pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu
pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban.
39) Segera setelah plasenta lahir,
melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara
sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus
baik (fundus teraba keras)
40) Periksa bagian maternal dan bagian
fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan
selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang
tersedia.
41) Evaluasi kemungkinan laserasi pada
vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan.
42) Memastikan uterus berkontraksi
dengan baik dan tidak terjadi perdarahan pervaginam.
43) Membiarkan bayi tetap melakukan
kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.
44) Setelah satu jam, lakukan
penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan
vitamin K1 1 mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.
45) Setelah satu jam pemberian vitamin
K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral.
46) Melanjutkan pemantauan kontraksi dan
mencegah perdarahan pervaginam.
47) Mengajarkan ibu/keluarga cara
melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.
48) Evaluasi dan estimasi jumlah
kehilangan darah.
49) Memeriksakan nadi ibu dan keadaan
kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap
30 menit selama jam kedua pasca persalinan
50) Memeriksa kembali bayi untuk memastikan
bahwa bayi bernafas dengan baik.
51) Menempatkan semua peralatan bekas
pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas
peralatan setelah di dekontaminasi.
52) Buang bahan-bahan yang
terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai.
53) Membersihkan ibu dengan menggunakan air DDT.
Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai memakai
pakaian bersih dan kering.
54) Memastikan ibu merasa nyaman dan
beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum.
55) Dekontaminasi tempat persalinan
dengan larutan klorin 0,5%.
56) Membersihkan sarung tangan di dalam
larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendamnya dalam larutan klorin 0,5%
57) Mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir.
58) Melengkapi partograf.
Walau sudah mencakup 95 % bidan di
Demak mengikuti pelatihan persalinan, namun pada tahun 2013 diharapkan sampai
100 % bidan di Demak dapat mengikuti pelatihan persalinan ini.
Keterampilan yang diajarkan dalam
pelatihan Asuuhan Persalinan Normal harus diterapkan sesuai dengan standar
asuhan bagi semua ibu bersalin di setiap tahap persalinan setiap penolongan
persalinan dimana pun hal tersebut terjadi.
Diakhir pelatihan asuhan persalinan
normal, peserta harus menguasai pengetahuan dan keterampilan yang telah
ditetapkan sehingga mampu untuk memberikan asuhan persalinan yang aman dan
bersih sera mencegah terjadinya komplikasi pada ibu dan anak yang baru lahir.
Pelatihan asuhan persalinan normal
baru dianggap selesai apabila pada penilaian di tempat kerja menunjukkan bahwa
peserta latihan telah berkualifikasi untuk memberikan asuhan persalinan normal,
dan tempat peserta bekerja terakreditasi sebagai fasilitas kesehatan yang mampu
memberikan pelayanan sesuai dengan standar yang ditetapkan.
Ini semua kembali kepada tanggung
jawab bidan terhadap pengembangan kompetensi yanitu setiap bidan memiliki
tanggung jawab memelihara kemampuan profesionalnya.
Karena tujuan pendidikan kebidanan
berkelanjutan yaitu :
a. Pemenuhan
standart
Organisasi profesi bidan telah menentukan standar kemampuan bidan yang harus dikuasai melalui pendidikan berkelanjuatan. Bidan yang telah lulus program pendidikan kebidanan tersebut wajib melakukan registrasi pada organisasi profesi bidan untuk mendapatkan izin memberikan pelayanan kebidanan kepada pasien.
Organisasi profesi bidan telah menentukan standar kemampuan bidan yang harus dikuasai melalui pendidikan berkelanjuatan. Bidan yang telah lulus program pendidikan kebidanan tersebut wajib melakukan registrasi pada organisasi profesi bidan untuk mendapatkan izin memberikan pelayanan kebidanan kepada pasien.
b. Meningkatkan
produktivitas kerja
idan akan dipacu untuk terus meningkatkan jenjang pendidikan mereka sehingga pengetahuan danketerampilan (technical skill) bidan akan lebih berkualitas. Hal ini akan meningkatkan produktivitas kerja bidan dalam memberikan pelayanan pada klien.
idan akan dipacu untuk terus meningkatkan jenjang pendidikan mereka sehingga pengetahuan danketerampilan (technical skill) bidan akan lebih berkualitas. Hal ini akan meningkatkan produktivitas kerja bidan dalam memberikan pelayanan pada klien.
c. Efisiensi
Pendidikan bidan yang berkelanjutan akan melahirkan bidan yang berkompeten dibidangnya sehingga menigkatkan efisiensi kerja bidan dalam memberi pelayanan kepada klien. Pelayanan kebidanan yang berkualitas akan menarik komsumen.
Pendidikan bidan yang berkelanjutan akan melahirkan bidan yang berkompeten dibidangnya sehingga menigkatkan efisiensi kerja bidan dalam memberi pelayanan kepada klien. Pelayanan kebidanan yang berkualitas akan menarik komsumen.
d. Meningkatkan
kualitas pelayanan
Pendidikan bidan yang
berkelanjutan akan memicu daya saing dikalangan profesi kebidanan agar terus
meningkatkan kualitasnya akan menarik komsumen.
e. Meningkatkan
moral
Melalui pendidikan
bidan yang berkelanjutan tidak hanya pengetahuan dan keterampilan bidan dalam
member pelayanan yang menjadi perhatian, tetapi moralitas dan etika seorang
bidan juga ditingkatkan untuk menjamin kualitas bidan yang professional.
f. Meningkatkan
karier
Peluang peningkatan
karier akan semakin besar seiring peningkatan kualitas pelayanan, peforma dan
prestasi kerja. Semua ini ditunjang oleh pendidikan bidan yang berkualitas.
g. Meningkatkan
kemampuan konseptual
Kemampuan intelektual
dan konseptual bidan dalam menangani kasus pasien akan terasah sehingga bidan
dapat memberi asuhan kebidanan dengan tepat.
h. Meningkatkan
keterampilan kepemimpinan (leadership skill)
Bidan akan memiliki
kemampuan kepemimpinan yang baik sebagai seorang manager, bidan dibekali keterampilan
untuk dapat berhubungan dengan orang lain (human realition) dan bekerjasama
dengan sejawat multidisiplin lainnya guna memberi pelayanan yang berkualitas
bagi klien.
i.
Imbalan (kompensasi)
Asuhan bidan yang
berkualitas akan menarik konsumen dan meningkatkan penghargaan atas pelayanan
yang diberikan.
j.
Meningkatkan kepuasan
konsumen
Kepuasan konsumen akan
meningkat seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan kebidanan.
Oleh karena itu, bidan harus selalu meningkatkan
pengetahuan dan keterampilannya dengan jalan mengikuti pelatihan, pendidikan
berkelanjutan, seminar, dan pertemuan ilmiah lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Soepardan, suryani. (2007). Konsep Kebidanan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
Hurhayati, Aprina, Bustani, Anita.
(2012). Konsep Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika

Tidak ada komentar:
Posting Komentar